Showing posts with label Dongeng Anak. Show all posts

Dongeng Kisah Pohon Apel Apple Three

Sunday, April 7, 2013
Posted by Unknown



Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang  bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang  memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut,
“Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan   kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.”  Jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” Kata pohon apel.  “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.


Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
  • Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.
Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

VERSI BAHASA INGGRIS

Once upon a time, there lived a large apple tree and a boy who likes to play around under the apple tree every day. He was happy to climb up to the top of the tree, eat the fruit, dozing in the shade of lush leaves. The boy loved the apple tree.Similarly, the apple tree is very loving little boy.

Time goes by. The son has now grown big and is no longer playing with the apple tree every day.

One day he came to the apple tree. His face looked sad.

"Come and play with me," pleaded the apple tree.

"I'm not a little kid playing with the tree again." Replied the boy.

"I'd love to have a toy, but I do not have the money to buy it."

The tree replied.

"Ops, sorry I did not have money ... but you should take all the pieces and sell my apple. You can get the money to buy toys're into."

The boy was very happy. He grabbed all the apples on the tree and left happily. However, after that the boy never came back. The tree was sad again.

One day the boy came back again. The tree was very happy to see it coming.

"Come play with me anymore." The tree said.

"I have no time," replied the boy.

"I have to work for my family. We need a house for shelter. Will you help me?"

"Ops, sorry I did not have a house. But you should not cut down all the branches rantingku to build your house. "The tree said.

Then the boy cut all the branches and twigs of the apple tree and left happily. The tree was also happy to see the boy happy but the boy never came back again. The tree was again lonely and sad.

In the summer, the boy came back again. The tree was overwhelmed felt welcome. "Come and play with me." The tree said.

"I'm sad," said the boy. "I am old and want to live in peace. I want to go on vacation and sailing. Will you give me a boat for a cruise?"

"Ops, sorry I do not have a boat, but you can cut the stems and use my body to make the boat you want.

Go sailing and have fun.

Later, the boy cut the tree trunk and make a boat that craved. He then went sailing and never again came to the apple tree.

Finally, the boy came back again after so many years later.

"I'm sorry my son," said the apple tree.

"I've never had an apple for you."

"It's okay. I've also had no teeth to bite the fruit apelmu. "Replied the boy.

"I do not have a trunk and branches that you can climb." Said the apple tree. "Now, I'm too old for that." Replied the boy.

"I really do not have anything else I can give you.

What was left was my roots are old and dying. "Said the apple tree with tears.

"I do not need anything else right now." Said the boy. "I just needed a place to rest. I was very tired after such a long leave."

"Oooh, that's nice. You know, the old tree roots is the best place to lie down and rest. Come, let us lay in the arms of my roots and rest in peace."

The boy was lying in the arms of the tree roots. The tree was very happy and smiling with tears in his eyes. 

SUmber : akucreative.blogspot.com

Dongeng Pinokio

Posted by Unknown


DI suatu kota, ada sebuah toko milik kakek Gepeto pembuat boneka. Ia tinggal seorang diri. "Alangkah senangnya kalau boneka manis ini menjadi seorang anak," gumamnya.
Setelah kakek berbisik demikian, terjadi satu keajaiban.
"Selamat siang, Papa." Boneka itu berbicara dan mulai berjalan.
Dengan amat gembira, kakek berkata, "Mulai hari ini, engkau anakku. Kau kuberi nama Pinokio. Agar kau menjadi anak pintar, besok kau mulai sekolah, ya!"
Keesokan paginya, Kakek Gepeto menjual pakaiannya dan dengan uang itu ia membelikan Pinokio sebuah buku ABC. "Belajarlah baik-baik dengan buku ini!"
"Terima kasih, Papa. Aku pergi sekolah, dan akan belajar dengan giat."
"Hati-hati ya!" pesan kakek.
Tetapi, dari arah yang berlawanan dengan sekolahnya terdengar suara, "Drum, dum, dum, dum."
Ketika Pinokio mendekat ternyata itu adalah tenda sandiwara boneka. Pinokio lalu menjual buku ABC-nya, membeli karcis dengan uang itu dan masuk ke dalam. Dalam tenda sandiwara, sebuah boneka anak perempuan akan telah dikepung prajurit berpedang. "Lihat! Jahat sekali prajurit itu!" Pinokio naik panggung dan menerjang boneka prajurit. Tali boneka itu putus dan jatuhlah boneka itu. Pemilik sandiwara yang marah segera menangkap Pinokio dan akan melemparnya ke api.
"Maafkan aku. Kalau aku dibakar, kasihan papa yang sudah tua," kata Pinokio. "Aku berjanji pada papa untuk belajar di sekolah dengan rajin."
Karena iba, pemilik sandiwara melepaskan Pinokio dan memberinya beberapa keping uang. "Gunakan uang ini untuk membeli buku-buku pelajaranmu," kata pemilik sandiwara tersebut.
Kemudian Pinokio pergi untuk membeli buku. Tetapi di tengah jalan, Rubah dan Kucing melihat keadaan itu. Mereka menyapa Pinokio dengan ramah. "Selamat siang, Pinokio yang baik. Kalau uang emas itu bertambah banyak, pasti papamu lebih senang, ya!"
"Bagaimana cara menambah uang emas ini?" tanya Pinokio.
"Gampang. Kau bisa menanamnya di bawah pohon ajaib. Lalu tidurlah, maka pada saat kau bangun nanti, pohon itu akan berbuah banyak sekali uang emas."
Kemudian Pinokio diantar Rubah dan Kucing menanam uang emasnya di bawah pohon ajaib. Ketika Pinokio mulai tidur siang. Rubah dan Kucing menggali uang emas itu dan menggantung Pinokio di pohon setelah itu mereka pergi.
"Tolong!...," teriak Pinokio ketika sudah bangun dari tidurnya dan mengetahui dirinya tergantung di sebuah pohon. Seorang Dewi yang melihat keadaan Pinokio, mengutus burung elang menolongnya. Burung elang membawa Pinokio dengan paruhnya, dan membawanya ke ruangan di mana Dewi telah menunggu. Dewi menidurkan Pinokio di tempat tidur dan memberinya obat.
"Nah, minumlah obat ini maka kau akan cepat sembuh. Setelah itu pulang, ya!" kata Dewi.
"Lebih baik mati daripada minum obat yang pahit." Pinokio terus menolak.
Akhirnya Dewi menjadi marah, "Plak plak!" Ia menampar. Lalu datanglah empat ekor kelinci yang menggotong peti mati. Pinokio terkejut sekali, cepat-cepat ia meminum obat yang pahit itu.
"Pinokio, mengapa kau tidak pergi ke seolah?" tanya Dewi.
"Hmm.. di jalan, aku menjual buku-ku untuk anak miskin yang kelaparan dan membelikannya roti. Karena itu, aku tidak bisa pergi ke sekolah." Tiba-tiba sajasyuut hidung Pinokio mulai memanjang.
"Pinokio! Kalau kau berbohong, hidungmu akan memanjang sampai ke langit."
"Maafkan aku. Aku tak akan berbohong lagi." Pinokio meminta maaf.
Dewi tersenyum, dan memerintahkan burung pelatuk mematuki hidung Pinokio, mengembalikannya ke bentuk semula. "Ayo cepat kembali ke rumah, dan belajar ke sekolah!"
Di tengah perjalanan pulang, Pinokio bertemu dengan kereta dunia bermain. Pinokio tidak bisa menahan diri untuk tidak naik. Pinokio telah lupa akan janjinya pada Dewi, setiap hari ia hanya bermain-main.
Pada suatu hari, Pinokio terkejut melihat wajahnya yang terpantul di permukaan air. "Ah! Telingaku jadi telinga keledai! Aku pun berbuntut!" teriaknya.
ernyata anak-anak lain pun telah menjadi keledai. Akhirnya Pinokio pun menjadi seekor keledai dan dijual ke sirkus. Pinokio telah melanggar janjinya kepada Dewi, maka ia mendapat hukuman.
Setiap hari ia dipecut dan harus melompati lingkaran api yang panas. Walaupun takut, Pinokio tetap meloncat. Akhirnya ia terjatuh sampai kakinya patah.
Pemilik sirkus menjadi marah. "Keledai dungu! Lebih baik dibuang ke laut." Kemudian Pinokio dilempar ke laut. Blup blup blup Pinokio tenggelam ke dasar laut, ikan-ikan datang menggigitnya. Lalu kulit keledai terlepas, dan dari dalamnya muncul si Pinokio. "Terima kasih ikan-ikan."
Sebenarnya Dewi melihat bahwa Pinokio telah menyadari kesalahannya dan memerintahkan ikan-ikan untuk menolongnya.
Sambil berenang, Pinokio berjanji dalam hati, "Kali ini setelah aku pulang ke rumah, aku akan ke sekolah dan belajar dengan giat. Aku juga akan membantu pekerjaan di rumah dan menjaga papa."
Pada saat itu Hrrr, seekor ikan hiu besar datang mendekat dengan suara yang menyeramkan.
"Haaa! Tolong." Pinokio ditelan ikan hiu yang besar itu.
Dalam perut hiu benar-benar gelap gulita. Tetapi, di kejauhan terlihat seberkas sinar. Ternyata itu adalah kakek Gepeto.
"Papa!"
"Pinokio!"
Mereka berdua saling berpelukan. "Aku pergi ke laut untuk mencarimu, dan aku ditelan hiu ini. Tapi, ternyata di sini aku bertemu denganmu. Untung kita selamat!"
"Ayo, kita keluar dari sini!"
"Badanku sudah lemah. Kau saja yang pergi," ucap kakek.
"Aku tidak mau kalau tidak bersama-sama Papa." Ketika ikan hiu sedang tidur, Pinokio melarikan diri dari mulut hiu dengan menggendong kakek Gepeto di punggungnya.
Dengan sekuat tenaga ia berenang sampai akhirnya tiba di pantai. Mereka menyewa sebuah pondok petani terdekat. Sambil merawat kakek, Pinokio bekerja setiap hari. Akhirnya, kakek menjadi sehat kembali.
"Pinokio, karena kaulah aku jadi sehat seperti ini. Terima kasih ya!"
"Papa, mulai sekarang aku akan lebih menurut lagi." Tiba-tiba saja sekeliling mereka menjadi bersinar terang.
"Pinokio, kau telah menjadi seorang anak yang baik." Dewi muncul, dan mengubah Pinokio si boneka menjadi seorang anak manusia. ***



Di suatu kampung tinggallah dua orang pemuda sebaya. Mereka bersahabat akrab sekali. Kemana pun mereka pergi selalu bersama. Boleh dikata tidak pernah terjadi pertengkaran di antara mereka. Jika yang seorang sedang marah, yang seorang lagi berdiam diri atau membujuk sehingga kemarahannya reda. Begitu juga jika ada kesulitan, selalu mereka atasi bersama. Pada dasarnya, mereka memang saling membutuhkan karena keadaan tubuh mereka mengharuskan demikian. Pemuda yang satu bertubuh kekar, tetapi buta matanya. Pemuda yang lain dapat melihat, tetapi bungkuk tubuhnya. Oleh karena itu, orang menyebut mereka si Buta dan si Bungkuk.

Si Buta sangat baik hatinya. Tidak sedikit pun ia curiga kepada temannya, si Bungkuk. Ia percaya penuh kepada temannya itu, walaupun si Bungkuk sering menipu dirinya. Kejadian itu selalu berulang setiap mereka menghadiri selamatan. Si Buta selalu duduk berdampingan dengan si Bungkuk.

Pada suatu kali saat makan, si Buta selalu mengeluh.
“Pemilik rumah ini kikir sekali!” bisiknya kepada si Bungkuk agar jangan didengar orang lain. “Tak ada secuil pun ikan, kecuali sayur labu.”

Si Bungkuk hanya tersenyum karena keluhan temannya itu akibat ulahnya. Secara diam-diam ia memotong daging ayam yang cukup besar di piring si Buta dan ditukar dengan sayur labu. Akibatnya, piring gulai si Buta hanya berisi sayur labu.

Si Bungkuk merasa bahagia bersahabat dengan si Buta. Setiap ada kesempatan, ia dapat memanfaatkan kebutaan mata temannya untuk kepentingan sendiri. Si Buta yang tidak mengetahui kelicikan si Bungkuk juga merasa senang bersahabat dengan temannya itu. Setiap saat si Bungkuk dapat menjadi matanya.

Pada suatu hari, si Bungkuk mengajak si Buta pergi berburu rusa. Tidak jauh dari kampung mereka ada hutan lebat. Bermacam-macam margasatwa hidup di sana seperti burung, siamang, binatang melata, dan rusa. Konon, pada waktu itu belum ada pemburu menggunakan senapan untuk membunuh hewan buruan. Penduduk yang ingin mendapatkan rusa atau binatang lain biasanya menggunakan jerat yang disebut jipah (faring). Kadang mereka berburu menggunakan anjing pelacak dan tombak. Cara ini akan dipakai si Bungkuk dan si Buta untuk berburu.

“Kalau kita dapat membunuh seekor rusa, hasilnya kita bagi dua sama rata,” ujar si Bungkuk.

Tentu saja si Buta sangat gembira mendengar hal itu. Ia segera menuntun anjing pelacak yang tajam Indra penciumannya, sedangkan si Bungkuk siap dengan tombak di tangan kanannya. Mereka berdua mengikuti arah yang ditunjukkan anjing pelacak itu.

Rupanya hari itu mereka bernasib baik. Seekor rusa jantan yang cukup besar berhasil mereka tombak. Tanduknya bercabang-cabang indah dan layak dijadikan hiasan dinding.

Si Bungkuk segera membagi rusa hasil buruan itu menjadi dua bagian. Akan tetapi, dengan segala kelicikannya, si Buta hanya mendapat tulang-tulang. Daging dan lemak rusa diambil si Bungkuk.

“Karena daging rusa sudah dibagi, kita masak sendiri sesuai selera kita,” kata si Bungkuk. Si Buta menurut saja karena pikirnya memang demikian seharusnya. Padahal dengan cara itu, si Bungkuk bermaksud agar daging yang dimilikinya jangan secuil pun dimakan si Buta. Walaupun si Buta tidak dapat melihat, kemampuannya memasak gulai tidak diragukan sedikit pun. Terbit air liur si Bungkuk mencium bau masakan si Buta karena Si Bungkuk memang tidak pandai memasak. Akhirnya, si Bungkuk dan si Buta menghadapi masakan rusa yang telah mereka masak dan siap menyantapnya.

“Sedaap!” kata si Bungkuk sambil memasukkan potongan daging yang besar ke dalam mulutnya.

“Nikmat!” kata si Buta sambil mengambil sepotong tulang yang besar dari piring dan menggigitnya. Si Buta bersungut-sungut karena yang digigit, ternyata tulang semua.

“Sayang,” katanya, “rusa begitu besar, tetapi tak punya daging! Besok kita berburu lagi, tetapi rusa itu harus gemuk dan banyak dagingnya.”

Si Bungkuk tersenyum mendengar perkataan si Buta. Si Buta merasa sayang jika tulang-tulang rusa yang telah dimasaknya dengan susah payah tidak dimakan. Oleh karena itu, ia mencoba menggigit tulang itu lagi. Akan tetapi, tulang itu sangat keras sehingga tetap tidak tergigit.

Hal itu membuat si Buta semakin penasaran. la mengerahkan segenap tenaga dan menggigit tulang itu sekuat-kuatnya hingga bola matanya hendak keluar dari lubang mata.

Tuhan sudah menakdirkan rupanya. Keajaiban pun terjadi. Mata si Buta tidak buta lagi.

“Aku bisa melihat!” teriaknya kegirangan. Si Buta menatap sekelilingnya. Ketika ia melihat tulang-tulang rusa di piringnya dan di piring si Bungkuk daging yang empuk, bukan main marahnya.

“Sekarang, terbukalah topeng kebusukanmu selama ini!” katanya.

Si Buta memungut tulang rusa paling besar, lalu si Bungkuk dipukul dengan tulang itu. Jeritan si Bungkuk meminta ampun tidak dihiraukannya sama sekali. Seluruh tubuh si Bungkuk babak belur. Seperti si Buta, keanehan pun terjadi pada si Bungkuk. Ketika la bangkit, ternyata punggungnya menjadi lurus seperti orang sehat. “Aku tidak bungkuk lagi! Aku tidak bungkuk lagi!” teriak si Bungkuk. Mereka berdua menari sambil berpeluk-pelukan dan bermaaf-maafan. Persahabatan mereka pun semakin akrab.


VERSI BAHASA INGGRIS


In a village there lived two young men the same age. They were very close friends. Wherever they go always together. Virtually never quarrel between them. If that one is angry, the other one silent or persuade that anger subsided.Likewise if there is trouble, they always handle jointly. Basically, they do need each other because their body conditions so require. One stocky young man, but a blind eye. The young man that others can see, but his body stooped.Therefore, people call them the Blind and the Humpback.

The blind is very good heart. Not one bit he suspected his friend, the Humpback. He believes fully to his friend, even though the Humpback often deceive themselves. It always repeat every time they attend salvation. The blind always sat side by side with the Humpback.

At a time when eating, the Blind is always complaining."The home owner is griping all!" He whispered to the Humpback not to hear."There is no shred of fish, vegetables except pumpkin."

The humpback just smiled because his complaint was because of him. Silently he cuts a pretty big chicken on the plate the Blind and exchanged with vegetable pumpkin. As a result, the Blind curry dishes containing only vegetable gourd.

The humpback was happy friendship with the Blind. Every chance, he can exploit his blind eye to their own interests. The blind do not know the cunning of the Humpback also feel happy to make friends with his friend. Every time the Humpback could be his.

One day, the Humpback invite the Blind go deer hunting. Not far from their village was a dense forest. An assortment of wildlife live there like birds, gibbons, reptiles, and deer. That said, at the time there were no hunters use a shotgun to kill the game. Residents who want to get a deer or other animals using snares usually called jipah (pharynx). Sometimes they hunt with dogs and spears. This method will be used the Humpback and the Blind for hunting.

"If we can kill a deer, we divide the two equally," said the Humpback.

Of course the Blind was delighted to hear about it. He immediately led sniffer dogs smell senses sharp, while the Humpback ready with a spear in his right hand. They both follow the direction shown that sniffer dogs.

Apparently it was their lucky day. A sizeable stag managed their spears. Branching antlers beautiful and deserve to be wall hangings.

Hunchback immediately hunted deer divide into two parts. However, with all his cunning, the Blind only got bones. Meat and fat deer taken the Humpback.

"Because venison is divided, we cook our own taste," said the Humpback. The blind went along because he thought they should.And in that way, the Humpback intended for meat that he had not eaten the Blind shred. Although the blind can not see, his ability to cook curry is not the slightest doubt. Published saliva Humpback smell the cooking for the Blind Hunchback is not good at cooking.Finally, the Humpback and the Blind faced reindeer dishes they have cooked and ready to eat.

"Savory!" The Humpback putting large pieces of meat into his mouth.

"Scrumptious!" Said the Blind, taking a large piece of bone from the plate and took a bite. The Blind grumble because the bite, bone turns all.

"Honey," he said, "so big deer, but did not have meat! Tomorrow we hunt anymore, but the deer have plenty of fat and meat."

Hunchback smiled at the words of the Blind. The blind was sorry if the bones of deer that have been painstakingly dimasaknya not eaten. Therefore, he tried freezing it again. However, it is very hard bones that remain bitten.

It makes the Blind more curious. He summoned all his energy and bite bones as strong as possible to his eyeballs about to get out of the eye holes.

God has ordained apparently. Miracle ensued. Blind eyes are not blind anymore.

"I can see!" Shouted for joy. The blind looked around. When he saw the bones of deer at the plate and on the plate Humpback tender meat, not playing angry.

"Now, it opens kebusukanmu mask over this!" He said.

The Blind picked the biggest deer bones, and the Humpback hit with a bone. Cry of the Humpback ask forgiveness disregard altogether.The entire body of the Humpback battered. As the Blind, weirdness ensued on the Humpback. When he got up, turns his back to be straight as a healthy person. "I'm no slouch anymore! I'm no slouch anymore! "Cried the Humpback. They both danced his neck and Greetings. Their friendship became more familiar.


Putri Salju lahir pada musim dingin. Kulitnya seputih salju. Matanya sangat besar, rambutnya panjang dan suaranya lembut. Ia baik hati dan cantik sekali. Semua orang menyayanginya. Ibunya seorang ratu, juga menyayanginya. Tapi ibunya meninggal dunia.

Muncul ratu baru. Wanita itu cantik, tapi jahat. Ia tidak menyukai Putri Salju karena Putri Salju adalah gadis paling cantik didunia.

"Aku akan membunuh Putri Salju." Maka ia menyuruh seorang pemburu agar membunuh Putri Salju. Pemburu itu seorang lelaki berhati jujur. "Kamu gadis baik, aku tidak mau membunuhmu." Maka ia membiarkan Putri Salju pergi.

Putri Salju lalu masuk kedalam hutan. Didalam hutan ia menemukan sebuah rumah tempat tinggal tujuh orang kurcaci. Mereka menyukai Putri Salju dan memintanya agar tinggal bersama mereka.

Tidak lama kemudian, ratu yang baru meninggal karena ia gagal menjadi yang paling cantik didunia.

Versi INGGRIS


Snow White was born on a cold winter day. She was as white as snow. Her eyes very big, her hair was very long and her voice was sweet. She was very kind and beautiful. Everybody loved her. Her mother, the Queen loved her, too. But she died.

A new Queen came, she was beautiful, but bad. She didn't like Snow White, because Snow White was the most beautiful girl in the world.

"I'll kill Snow White." So she ordered a hunter to kill Snow White. The hunter was an honest man. "You are a good girl, I don't want to kill you." So he let Snow White go away.

Snow White went into a forest. She found a house and went into the house. Seven dwarfs lived there. They liked Snow White to live with them.

No sooner, the new Queen died because she wasn't the most beautiful in the world.

Sumber : akucreative.blogspot.com



Dongeng Kisah Kapak dan Anak Jujur

Saturday, April 6, 2013
Posted by Unknown


Pada zaman dahulu kala, ada dua orang bersaudara yang tinggal di dekat hutan besar. Sang kakak mempunyai sifat rakus, sedangkan adiknya mempunyai sifat jujur. Mereka mencari nafkah dengan menebang kayu menggunakan kapak.

Suatu hari, ketika sang adik menebang kayu di tepi sungai, tak sengaja kapaknya terjatuh ke sungai. Karena ia terlalu miskin untuk membeli kapak baru, maka ia pun menangis. Seorang peri menghampiri dan bertanya mengapa ia menangis. Ia pun mengatakan kejadian yang sebenarnya.

Peri itu terjun ke dalam sungai dan muncul dengan membawa sebuah kapak dari emas, tapi lelaki itu berkata bahwa kapak itu bukan miliknya.

Lalu peri itu terjun ke sungai lagi dan kali ini membawa sebuah kapak dari perak, tetapi lagi-lagi lelaki itu berkata kapak itu juga bukan miliknya.

Ketiga kalinya peri itu terjun ke sungai dan muncul dengan membawa kapak besi. Kali ini lelaki itu berkata kapak itu adalah miliknya. Peri pun memuji kejujurannya.

Setelah kembali pulang, ia menceritakan kejadian tadi pada kakaknya. Sang kakak sangat marah dan menghardik adiknya karena kebodohannya itu.

Lalu sang kakak juga pergi menebang kayu di tepi sungai. Ia melempar kapaknya ke dalam sungai dan berpura-pura menangis. Peri datang dan bertanya mengapa ia menangis. Lelaki itu menceritakan kapaknya jatuh ke sungai.

Peri terjun ke sungai dan muncul membawa kapak dari emas. Lelaki itu berkata bahwa kapak itu adalah miliknya. Peri menjadi marah dan melemparkan kapak emas itu kesungai. Sang kakak terjun ke sungai untuk mengambilnya tapi sungai itu dalam dan ia tidak bisa berenang. Ia pun tenggelam.

Pesan Moral  :
Kita mengajarkan anak kita untuk tidak serakah, tidak tamak dan selalu jujur meskipun sedang dalam keadaan sudah atau miskin 


VERSI BAHASA INGGRIS


Once upon a time, there lived two brothers near a big forest. The elder brother was greedy while the younger brother was honest. They lived on cutting wood.

One day, the younger brother went to cut wood at the side of a river. His axe fell into the river carelessly. He was too poor to buy a new axe, so he cried. A fairy came and asked him why he cried. The man told the truth.  The fairy jumped into the river and came up with a gold axe. But the man said it was not his.

Then the fairy jumped into the river again and came up with a silver axe. The man said it was still not his.

The third time the fairy jumped into the river and came with an iron axe. The man said that it was him. The fairy praised him.

After the younger brother went back to his home, he told his brother the thing. The elder brother was very angry, and he scolded the younger brother for his foolishness.

So the elder brother also went to cut wood at the side of the river. He threw his axe into the river and pretend to cry. The fairy came and asked him why he cried. The man told her his axe had fallen into the river.

The fairy jumped into the river and came up with a gold axe. The man said it was him. The fairy became angry and threw the gold axe into the river. The elder brother dived into the water to get it, but the river was deep and he couldn’t swim. He was drowned.



dikreasikan dari: akucreative.blogspot.com
Welcome to My Blog

Popular Post

Powered by Blogger.

Labels

- Copyright © Aneka Resep Masakan 2013 -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -